BUDAYA suatu daerah adalah warisan nenek moyang yang harus dijaga. Hilangnya budaya mungkin bisa diartikan sebagai hilangnya identitas daerah tersebut.
Salah satunya adalah Tanah Minang, yang menyimpan banyak budaya. Tidak hanya kisah Malin Kundang, Tanah Minang juga punya kisah lain yang wajib Anda ketahui.
Dijelaskan Wali Kota Bukittinggi M. Ramlan Nurmatias, tanah Minang juga menyimpan kisah menarik terkait dengan perempuan.
Salah satunya adalah Tanah Minang, yang menyimpan banyak budaya. Tidak hanya kisah Malin Kundang, Tanah Minang juga punya kisah lain yang wajib Anda ketahui.
Dijelaskan Wali Kota Bukittinggi M. Ramlan Nurmatias, tanah Minang juga menyimpan kisah menarik terkait dengan perempuan.
Ini juga menjadi bukti bahwa nenek moyang Minang sudah sangat menjunjung tinggi perempuan.
MKVPoker - Agen Poker Online dengan menggunakan uang asli Terbaik dan Terpercaya di Indonesia.
[ BONUS DEPOSIT 10% untuk semua member MKVPOKER dengan Minimal Deposit sebesar Rp. 20.000,- ]
Salah satu budaya yang masih dilakukan sampai sekarang adalah
ketika salat Jumat. Percaya atau tidak, ternyata orang Minang akan salat
Jumat di kampung tempat dia dilahirkan.
Setelah salat, si pria Minang
tidak kemudian pulang ke rumah istrinya, melainkan ke rumah ibu
kandungnya.
"Hal ini sudah dilakukan sejak nenek moyang. Ini sebagai tanda
pria Minang masih menghormati tanah kelahirannya dan tentu bundo
kanduangnya," papar Ramlan, dilansir Judi Poker Live.
Nah, saat mengunjungi rumah ibu kandung, biasanya si pria Minang
ini akan ditanya-tanya terkait dengan bagaimana kehidupannya.
Bagaimana
sekolah si anak atau juga membahas keponakan yang ternyata menjadi
tanggungjawab pria Minang sampai dia meninggal.
Tidak hanya itu, Ramlan juga menjelaskan bahwa di Minang harta warisan itu hanya bisa jatuh ke tangan perempuan, pria Minang tidak berhak atas harta kuasa tersebut.
Dia berpendapat bahwa nenek moyang orang Minang dulu sudah memikirkan bagaimana kehidupan perempuan ketika suaminya misalnya meninggal, ditinggal suami, atau suaminya menikah lagi.
"Jadi, harta warisan hanya diberikan kepada perempuan, sedangkan pria Minang tetap bertanggungjawab untuk membesarkan keluarga dan keponakannya," tambah Ramlan.
Dia berpendapat bahwa nenek moyang orang Minang dulu sudah memikirkan bagaimana kehidupan perempuan ketika suaminya misalnya meninggal, ditinggal suami, atau suaminya menikah lagi.
"Jadi, harta warisan hanya diberikan kepada perempuan, sedangkan pria Minang tetap bertanggungjawab untuk membesarkan keluarga dan keponakannya," tambah Ramlan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar