Agen Poker Indonesia - PERKEMBANGAN teknologi dan pengaruh globalisasi menjadi tantangan zaman sekarang. Untuk menjadi sukses, setiap orang perlu memiliki kemampuan memecahkan masalah, beradaptasi, berkolaborasi mengembangkan kreativitas dan inovasi, serta kepemimpinan. Bukan tidak mungkin bila tantangan di masa depan akan semakin berat.
Guna mengatasi hal ini, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yaitu model pembelajaran yang bertumpu pada kekayaan kearifan lokal.
Guna mengatasi hal ini, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yaitu model pembelajaran yang bertumpu pada kekayaan kearifan lokal.
PPK merupakan gerakan nasional untuk mengimplementasikan dan memperkuat nilai-nilai Pancasila dalam satuan pendidikan yang diselaraskan dengan nilai budaya.
Melalui cara ini, sekolah diharapkan mendesain pembelajaran secara kontekstual serta bersinergi dengan orangtua dan masyarakat sebagai tripusat pendidikan.
"Kalau berbicara tentang pendidikan karakter, sebenarnya sudah
menjadi bagian dari konten kurikulum 2013.
Kemudian ada Peraturan
Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter
sehingga secara keseluruhan harus dilaksanakan di dalam ekosistem
pendidikan, bukan hanya pada siswa," ungkap Dr. Arie Budhiman, M.Si,
selaku Staf Ahli Mendikbud Bidang Pembangunan Karakter, dilansir Agen Poker Indonesia.
Ditemui usai acara peluncuran buku 'Panduan Praktis Penguatan Pendidikan Karakter' hasil kerja sama Kemendikbud dengan Wahana Visi Indonesia, Arie menuturkan bila pendidikan karakter sebenarnya pembelajaran sepanjang hayat.
Pendidikan karakter diperlukan karena merupakan visi atau ideologi dari setiap bangsa untuk membangun identitas.
"Ini menjadi sangat penting terutama dalam menghadapi berbagai tantangan seperti kemajuan teknologi, revolusi industri 4.0, dan lain sebagainya," tambahnya.
Dalam PPK terdapat 5 nilai yang diajarkan kepada peserta didik yaitu religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas.
"Ini menjadi sangat penting terutama dalam menghadapi berbagai tantangan seperti kemajuan teknologi, revolusi industri 4.0, dan lain sebagainya," tambahnya.
Dalam PPK terdapat 5 nilai yang diajarkan kepada peserta didik yaitu religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas.
MKV Poker - Agen Poker Online dengan menggunakan uang asli Terbaik dan Terpercaya di Indonesia.
[ BONUS DEPOSIT 10% untuk semua member MKV POKER dengan Minimal Deposit sebesar Rp. 20.000,- ]
Pada pelaksanaannya, PPK bersifat kontekstual yaitu disesuaikan dengan kondisi aktual masing-masing daerah. Pembelajarannya dimasukkan dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
"Memang lebih banyak di ekstrakurikuler karena dari sana bisa
memberikan pengaruh kepada peserta didik sehingga praktek dan karakter
bisa tumbuh," ujar Arie.
Sementara itu, menurut pakar analis Pendidikan Kebijakan di Pusat
Analisis dan Kebijakan Sinkronisasi (PASKA), Doni Koesoema A., dalam
pelaksanaannya PPK memang masih menemukan sejumlah hambatan. Salah
satunya adalah pemahaman konsep dari pengajar.
"Kalau guru tidak paham konsep mereka bingung. Di beberapa tempat
praktiknya ada yang salah, banyak yang menganggap PPK itu agama jadi
kegiatan keagamaan diperbanyak, padahal bukan.
Agama hanya 1 dari 5
nilai sehingga semuanya harus utuh diajarkan. Kemudian dianggap PPK
hanya ada di dalam pembiasaan-pembiasaan seperti upacara bendera, ini
salah juga," ujar Doni saat ditemui dalam kesempatan yang sama.
Hingga saat ini ia mengatakan bila penerapan PPK sudah hampir
mencapai 85%. Di tahun 2019, diharapkan bisa mencapai 100% karena
didampingi oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) masing-masing
provinsi.
Selain konsep, hambatan lain dalam penerapan adalah populasi
yang besar, sinergi tripusat pendidikan, kondisi prasarana dan sarana,
serta peristiwa yang terjadi di masyarakat.
Di sisi lain, PPK diperlukan untuk membentuk manusia-manusia yang
memiliki nilai kehidupan di tengah derasnya arus informasi dan kemajuan
teknologi.
Sebab apabila tidak dipersiapkan, maka instrumen teknologi,
informasi, komunikasi malah akan disalah gunakan untuk merusak.
"PPK itu ingin mempersiapkan generasi masa depan secara
sungguh-sungguh sehingga bukan hanya memiliki skill dan keterampilan
tapi juga nilai-nilai.
Penguatan PPK akan menghasilkan generasi yang
bukan hanya pintar menggunakan gawai tetapi bisa menggunakan gawai untuk
mencegah kerusakan lingkungan meningkatkan ekonomi, dan membangun
komunikasi sosial yang baik," pungkas Doni.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar