Mkvpoker Agen Poker Idn - Memberi pengertian kepada anak kecil
tidak selalu mudah. Terkadang mereka mengeluarkan pertanyaan yang
kritis terutama untuk hal-hal yang belum pernah ditemui atau dialami.
Salah satu contohnya mengenai demo.
Tak bisa dipungkiri, Aksi 22 Mei yang terjadi mengundang
perhatian dari banyak pihak. Mulai dari membicarakan hingga mengikuti
perkembangan di TV.
Bukan tidak mungkin anak kecil
turut mendengar tentang Aksi 22 Mei. Hal itu bisa jadi membuat mereka
bertanya-tanya dan penasaran dengan peristiwa tersebut.
Biasanya ketika ada hal-hal yang tidak dipahami, anak-anak cenderung
bertanya kepada orangtua atau orang dewasa.
Bila anak Anda termasuk anak
yang memberikan pertanyaan tentang demo, maka usahakan penjelasan yang
diberikan dapat dengan mudah dimengerti.

Menurut psikolog anak dan keluarga, Ayoe Sutomo, penjelasan yang
diberikan harus sesuai dengan tahapan kognitif anak.
Dengan begitu,
orangtua maupun orang dewasa tidak memberikan penjelasan yang salah atau
malah membuat anak menjadi tidak paham. Untuk itu, sebelum memberi
penjelasan, sebaiknya anak ditanya terlebih dahulu tentang informasi
yang didapat.
MKVPOKER - Agen Poker Online dengan menggunakan uang asli Terbaik dan Terpercaya di Indonesia.
[ BONUS DEPOSIT 10% untuk semua member MKV POKER dengan Minimal Deposit sebesar Rp. 20.000,- ]
“Paling benar itu tanya dulu dia dengar dari mana, tahu dari mana. Misalkan dia bilang tahu dari TV, tanya lagi yang dilihat seperti apa.
Orangtua perlu lebih banyak mengeksplor agar memilih jawaban yang memang tepat dan sesuai,” ujar Ayoe sewaktu dihubungi Okezone melalui sambungan telepon, Jumat (24/5/2019).
Cara di atas bisa diterapkan jika anak tidak mengalami situasi secara langsung. Tapi tidak menutup kemungkinan anak-anak akan menanyakan peristiwa yang dialaminya. Andai kata anak berada di situasi demo dan bertanya mengenai hal tersebut, orangtua maupun orang dewasa yang tengah berada bersamanya perlu menerapkan cara berbeda.
Pertama, menjamin keamanan anak secara emosi terhadap apapun kondisi yang dialaminya. Orangtua tetap harus tenang ketika memberikan penjelasan. Hal ini bertujuan untuk mencegah anak mengalami trauma karena melihat respons lingkungan sekitar.
Cara di atas bisa diterapkan jika anak tidak mengalami situasi secara langsung. Tapi tidak menutup kemungkinan anak-anak akan menanyakan peristiwa yang dialaminya. Andai kata anak berada di situasi demo dan bertanya mengenai hal tersebut, orangtua maupun orang dewasa yang tengah berada bersamanya perlu menerapkan cara berbeda.
Pertama, menjamin keamanan anak secara emosi terhadap apapun kondisi yang dialaminya. Orangtua tetap harus tenang ketika memberikan penjelasan. Hal ini bertujuan untuk mencegah anak mengalami trauma karena melihat respons lingkungan sekitar.
Di usianya yang masih kecil, anak sebenarnya berada dalam posisi netral. Jadi saat dia mengalami peristiwa yang belum pernah ditemui, tidak ada pikiran macam-macam.
“Namun kalau dia melihat orang di sekitarnya panik, hal itu akan membuat anak menganggap peristiwa yang dialaminya adalah sesuatu yang mengancam sehingga menimbulkan rasa cemas, khawatir, dan takut,” terang Ayoe.
Saat orang di sekitarnya menjelaskan dengan tenang, anak lebih bisa menerima peristiwa yang baru dialaminya. Setelah menjamin keamanan emosi anak, selanjutnya orangtua perlu memastikan anak berada dalam situasi aman. Berikan pemahaman jika dirinya akan baik-baik saja.
“Bisa dengan dibilang ‘Tenang, ada mama semua aman dan baik. You don’t have to worry’. Tujuannya agar tidak ada pandangan buruk dalam diri anak terhadap peristiwa yang dialami (seperti Aksi 22 Mei),” tandas Ayoe.
“Namun kalau dia melihat orang di sekitarnya panik, hal itu akan membuat anak menganggap peristiwa yang dialaminya adalah sesuatu yang mengancam sehingga menimbulkan rasa cemas, khawatir, dan takut,” terang Ayoe.
Saat orang di sekitarnya menjelaskan dengan tenang, anak lebih bisa menerima peristiwa yang baru dialaminya. Setelah menjamin keamanan emosi anak, selanjutnya orangtua perlu memastikan anak berada dalam situasi aman. Berikan pemahaman jika dirinya akan baik-baik saja.
“Bisa dengan dibilang ‘Tenang, ada mama semua aman dan baik. You don’t have to worry’. Tujuannya agar tidak ada pandangan buruk dalam diri anak terhadap peristiwa yang dialami (seperti Aksi 22 Mei),” tandas Ayoe.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar