Mkvpoker Agen Poker Idn - MASIH membekas di hati dan pikiran Inri, hinaan yang kerap dilontarkan orang-orang di sekitarnya. Bahkan, tak terhitung sudah berapa kali Inri menjadi korban body shaming hingga ia sempat melakukan percobaan bunuh diri.
Ya, tidak dapat dipungkiri bahwa isu body shaming saat ini belum menjadi prioritas utama pemerintah Indonesia. Kesadaran masyarakat terhadap isu tersebut pun dinilai masih rendah.
"Kamu gedutan ya sekarang?," , "Diet dong biar kelihatan cantik," , "Buset, badan lo besar banget kayak gajah," adalah beberapa contoh bentuk body shaming yang tanpa kita sadari sangat menyakitkan bagi para korbannya.
"Kata-kata seperti itu sangat menyakitkan, dan bisa mempengaruhi kesehatan mental korbannya. Tak jarang korban body shaming itu mengalami depresi," terang Inri saat dihubungi via sambungan telepon, Sabtu (10/8/2019).
Ya, tidak dapat dipungkiri bahwa isu body shaming saat ini belum menjadi prioritas utama pemerintah Indonesia. Kesadaran masyarakat terhadap isu tersebut pun dinilai masih rendah.
"Kamu gedutan ya sekarang?," , "Diet dong biar kelihatan cantik," , "Buset, badan lo besar banget kayak gajah," adalah beberapa contoh bentuk body shaming yang tanpa kita sadari sangat menyakitkan bagi para korbannya.
"Kata-kata seperti itu sangat menyakitkan, dan bisa mempengaruhi kesehatan mental korbannya. Tak jarang korban body shaming itu mengalami depresi," terang Inri saat dihubungi via sambungan telepon, Sabtu (10/8/2019).
Korban body shaming harus berani speak up
Kepada Okezone, Inri pun membagikan pengalaman tidak menyenangkan
saat dirinya menjadi korban body shaming. Salah satunya saat ia sedang
melakukan perjalanan dinas ke Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur, pada
2018 lalu.
Kala itu, Inri dan rombongan kantornya sedang menaiki sebuah
perahu untuk menyeberang ke sebuah pulau. Namun di tengah perjalanan,
seorang pria lanjut usia tiba-tiba mengomentari bentuk fisik Inri.
"Suasananya memang lagi santai, dan dia anggap sebagai candaan
semata. Tapi saya tidak terima, saya langsung bilang ke dia 'it's not
okay, tidak benar, dan unacceptable'. Dia langsung diam dan benar-benar
minta maaf," ungkap Inri.
Ironisnya, sang pelaku body shaming berasal dari sebuah instansi
pemerintahan yang memiliki background pendidikan memumpuni. Itulah
sebabnya Inri berani menegur pria tersebut, karena memang hingga saat
ini belum banyak korban body shaming yang berani speak up. Alhasil
orang-orang menjadi tidak peka.
"Pengalaman dari saya kecil, kalau jaman dulu orang itu merasa
tidak bersalah untuk berkomentar tentang tubuh orang lain. Mereka tidak
berpikir orang yang mereka komentari perasaannya tersakiti atau tidak,"
kata dia.
"Mereka menganggap itu hal wajar. Tapi sebetulnya it's not okay.
Mereka harus tahu bahwa seseorang tidak punya hak untuk mengomentari
tubuh orang lain," tambahnya.
MKVPOKER - Agen Poker Online dengan menggunakan uang asli Terbaik dan Terpercaya di Indonesia.
[ BONUS DEPOSIT 10% untuk semua member MKV POKER dengan Minimal Deposit sebesar Rp. 20.000,- ]
Sempat melakukan percobaan bunuh diri
Untuk ukuran wanita Indonesia, Inri tidak memungkiri bahwa bentuk
tubuhnya terbilang besar. Saat ini, berat badan wanita yang bekerja di
Kementerian Kesehatan itu menyentuh angka 108 kg.
Namun, bukan berarti Inri tidak pernah mencoba menurunkan berat
badannya. Sudah beberapa kali ia berkonsultasi dengan dokter dan ahli
gizi agar bisa memiliki berat badan yang ideal.
"Puji Tuhan sudah turun 15 kg. Tapi dalam kondisi tertentu ada
orang yang tubuhnya tetap seperti itu walaupun sudah diet mati-matian.
Saya dari jaman dulu juga sudah coba diet dan berolahraga, tapi tetap
saja ada yang ngatain saya gendut dan lain sebagainya. Sudah jadi
makanan sehari-hari lah," kata Inri.
Kendati demikian, Inri tidak mengelak bahwa pada saat-saat tertentu,
hinaan yang diterimanya secara tidak langsung mempengaruhi kesehatan
mental.
"Kalau lagi down terus ada yang ngatain saya gajah, saya langsung
down banget sampai mempertanyakan kepada Tuhan, 'Kenapa saya tidak
seperti cewek pada umumnya?'. Apalagi di Indonesia itu cewek dinilai
dari kecantikan fisik," timpal Inri.
Puncaknya, ia sempat melakukan percobaan bunuh diri hingga harus
dilarikan ke rumah sakit oleh kedua orang tuanya. Kejadian tersebut
berlangsung saat ia masih duduk di bangku SMA.
Masa-masa remaja, menurut Inri, sangat berperan penting dalam
membentuk mental seseorang. Apalagi di masa inilah seseorang mulai
mencari jati diri.
"Kesalahan saya dulu emang enggak suka curhat dan nulis diary
juga enggak suka. Saya suka nyimpan sendiri, ujung-ujungnya depresi.
Jaman saya dulu itu belum kayak sekarang, belum jamannya
curhat-curhatan," beber Inri.
Fokus mengejar cita-cita
Setelah melewati masa-masa kelam itu, Inri mencoba berdamai
dengan dirinya sendiri. Ia tidak lagi mempedulikan omongan orang lain,
dan lebih fokus mengejar mimpinya.
"Saya enggak mau ambil pusing lagi. Saya berpikir mungkin itu
kekurangan saya, dan saya akan menggali lebih dalam lagi kelebihan
saya," tegas Inri.
Pucuk dicita ulam pun tiba, Inri berhasil mendapatkan beasiswa S2
dari pemerintah Australia. Di negara inilah, ia banyak mendapatkan
pengalaman berharga seputar isu body shaming dan mental health.
Menempuh pendidikan di Negeri Kangguru, memberikan Inri
prespektif baru. Di negara ini, orang-orang ternyata jauh lebih peka
dan tidak pernah mengurusi urusan orang lain, termasuk mengomentari
bentuk tubuh lawan bicaranya.
Sementara di Indonesia, masalah kecil saja bisa jadi bahan
pergunjingan orang banyak. Namun setelah mendapatkan banyak ilmu di luar
negeri, Inri kini lebih berani menegur oknum-oknum yang melakukan
body shaming.
"Intinya jangan pernah, let people make you down. Kamu sendiri
yang menentukan kebahagiaanmu. Jadi jangan biarkan orang mengomentari
tubuh dan pilihan hidupmu," pungkasnya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar