Agen Poker Indonesia - SETIAP orangtua tentu ingin anaknya berperilaku positif dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, tak semua orangtua bisa mengalami hal yang sama.
Sebab ada saja anak-anak tertentu yang mendapat label ‘anak nakal’ karena sering berbuat onar atau bahkan terjerumus ke pergaulan yang tidak benar seperti memakai narkoba.
Dalam kasus ini, banyak orangtua yang kemudian membawa anaknya untuk konseling dengan ahli seperti psikolog maupun dokter jiwa.
Dalam kasus ini, banyak orangtua yang kemudian membawa anaknya untuk konseling dengan ahli seperti psikolog maupun dokter jiwa.
Harapannya agar anak mereka bisa berubah dan berperilaku baik. Akan tetapi, anak tidak bisa serta merta disalahkan.
Perilaku anak turut dipengaruhi oleh peran orangtua dalam proses pengasuhan dan penanaman nilai-nilai kehidupan.
Lantas, apa langkah yang harus dilakukan orangtua untuk menghadapi
perilaku anaknya yang bisa dikatakan menyimpang dari nilai-nilai sosial?
Psikolog anak dan remaja, Novita Tandry, M.Psych memberikan jawabannya, dilansir Agen Poker Indonesia.
Dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (26/2/2019),
dirinya mengatakan langkah pertama yang perlu dilakukan adalah orangtua
menyadari perannya dalam kehidupan anak.
“Sebagai orangtua, terkadang ada yang tidak sadar bila mereka
memberikan tanggung jawab pendidikan dan pengajaran kepada orang lain,
entah itu asisten rumah tangga maupun saudara.
Bila sudah begitu,
perilaku anak akan terbentuk sesuai dengan pemahaman yang diberikan oleh
orang lain yang mengasuhnya.
Anak tidak memahami dan menjalankan
nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua,” terang Novita.
MKV Poker - Agen Poker Online dengan menggunakan uang asli Terbaik dan Terpercaya di Indonesia.
[ BONUS DEPOSIT 10% untuk semua member MKV POKER dengan Minimal Deposit sebesar Rp. 20.000,- ]
Dijelaskan olehnya, orangtua harus sadar bahwa perilaku anak hari
ini dipengaruhi oleh perilakunya di masa lampau.
Langkah selanjutnya
adalah benar-benar menyediakan waktu dan tenaga untuk mengubah perilaku
anak.
Sebab bila anak sudah terlanjur besar, termasuk di usia remaja
yang senang memberontak karena sedang mencari jati diri, tantangan yang
dihadapi akan jauh lebih sulit.
“Makanya ada pepatah ‘Lebih mudah membentuk anak yang kuat
daripada memperbaiki manusia rusak’.
Untuk membentuk anak yang baik di
masa depan diperlukan penanaman nilai-nilai yang baik terutama di usia
0-7 tahun.
Tapi kalau sudah remaja, sulit sekali mengubah pemahaman yang
telah diterimanya sejak kecil, butuh kualitas dan kuantitas waktu,”
papar Novita.
Supaya langkah yang dilakukan bisa optimal untuk mengubah
perilaku anak menjadi lebih baik, Novita mengatakan orangtua tidak bisa
lagi sibuk dengan urusannya sendiri.
Mereka harus betul-betul menyiapkan
waktu dan mengomunikasikan segala aspek nilai kehidupan. Orangtua harus
hadir dan tidak menjadi hakim.
“Apabila orangtua menjadi hakim, anak akan lari. Sebaliknya, jadilah
teman anak, dengarkan keluhannya, lalu masuk pelan-pelan dengan
nilai-nilai kehidupan yang baik.
Jangan lupa orangtua juga harus
mengubah perilakunya agar anak tidak merasa nasihat orangtua hanya
sekadar omongan belaka.
Kalau perlu minta maaf jika memang merasa
bersalah telah membiarkan anaknya dan fokus pada urusannya sendiri,”
pungkas Novita.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar